Kamis, 05 Desember 2013

Cerpen - My Curly Girl

Hai-Hai..... nih ada cerpen bikinan gue, buat tugas bahasa di sekolah sih, but kemarin udah di kumpul, idenya dapet dari hasil bongkar-bongkar tabloid story sih wkwkwkwk #plaaak eits tapi ini ga plagiat loh ! #serius
okeeeh enjoy....n komen kalo perlu (kalo bisa sih) wkwkwkwkwk.... newbie alias newborn nih
mohon bantuannya senpai,sensei, hyung, noona, brother, sis, ukhti, ikhwan errr apalagi yaa, heem...guys~ :D
*****
Seharusnya pujian yang aku ucapkan padanya. Sedangkan keriting? Ya, aku telah mengatainya keriting, karena rambut keriting yang dimilikinya. Curly Girl. Tapi apa salahnya kalau rambutnya keriting, toh dia tetap terlihat manis, menurutku, dan... aku menyukainya. Ya, aku menyukainya meski dia berambut keriting seperti mie. Karena cinta tidak memandang yang demikian.
“Hei !” Viona tiba-tiba sudah berada di belakang bangku tempatku berselonjor. Aku hanya menoleh sebentar, kemudian kembali ke kesibukanku semula. Sedangkan dia langsung duduk tanpa dipersilakan.
“Nggak ada kerjaan lain ya selain main game?” tanyanya retoris
Padahal diakan sudah tahu kalau aku memang penggila game. Aku tak menanggapinya.
“Ren !” katanya kemudian.
“Hm?”
“Semalem aku mimpiin kamu,” katanya yang secara otomatis membuat jantungku dag dig dug tak karuan. Aku memang tak merespon ucapannya, tapi menunggu kelanjutan ceritanya. Apa gerangan yang dimimpikannya tentangku? Jadi geer.
“Aku mimpi kamu mati Ren !”
“What?” kata pertama yang spontan keluar dari mulutku “Vi, apa-apaan sih kamu?”
“Yee, beneran Ren! Aku juga gak tau kenapa. Tapi tenang aja! Soalnya denger-denger kalau kita mimpi seseorang mati, orang yang kita mimpiin itu justru akan berumur panjang”. Jelasnya sebelum aku sempat menyela.
“Kata siapa ?” todongku.
“Kata mbahku. Mbahku kan asli orang jawa. Katanya sih kalau menurut primbon jawa begitu”.
“Tapi aku orang Bali Vi !”
“Emang apa bedanya?”
Aku hanya terdiam. Sebenarnya aku juga gak tahu sih apa arti mimpi kayak gitu menurut orang di tempat asalku. Soalnya sudah dari kelas dua SD aku tinggal dan tumbuh di Jawa. Hhhhh, nggak penting juga. Kuteruskan lagi kesibukanku yang sempat terbengkalai aku harus menyelesaikan gameku sedikit lagi akan naik level.
“Tuh kan. Masa bodoh lagi,” omelnya kemudian. “Apa enaknya sih main game?”
“Sebuah kesenangan melakukan sesuatu itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Vi. Tapi hanya bisa dirasakan. Baru kita bisa tahu rasanya kesenangan itu, right?”
“Alah, gaya lo .”
“Beneran. Sama halnya kalau aku nanya sama kamu, kenapa kamu gila banget sama novel. Emang kamu bakalan jawab gimana?” tanyaku balik.
“Yaa... kalau novelkan udah jelas banget, itu asyik tau. Menambah kepekaan kita disamping menambah wawasan dan pengetahuan serta membuat seakan kita sedang masuk dalam dunia yang baru. Kalau main game?”
“Bikin enjoy,” jawabku singkat. “Cukup?”
“Bukannya malah ngabisin waktu ya? Coba katakan satu aja alasan yang masuk akal tentang hobi burukmu ini !”
Mulai lagi deh bawelnya, batinku kesal.
“ Viona keritiiing....” tuh kan keluar lagi omongan jelekku. Seharusnya kan yang keluar dari mulutku ‘Viona cantik’ atau ‘Viona sayang’. Tapi masa bodo ah. Lagian dianya nyebelin.
“Alasan paling masuk akal kenapa aku suka main game, karena aku gak perlu susah-susah memasukkan apa yang aku lakukan itu ke dalam otakku. Kalau nyawa abis, game over, tinggal start a new game lagi deh. Mulai kehidupan baru. Nah, karena gak merasa terbebani aku jadi enjoy. Gituuu!” jelasku panjang lebar.
Tapi dia hanya diam setelah aku ngomong sepanjang itu. Kamfreet, nggak menghargai banget. Dasar cewek! Eh, tunggu, apa jangan-jangan dia diam karena...
“Vi” panggilku pelan.
“Hmm?”
“Kamu gak ketiduran kan?” mulai kulirik wajahnya.
“Enggak” katanya tanpa melihatku. Sudah sibuk dengan novelnya.
“Hmmm... Balas dendam ni ceritanya?” cibirku.
“Gak juga, kayaknya gak penting aja dengerin omongan kamu, gak berbobot” katanya kemudian berlalu dari depanku.
“Loh, kok pergi sih?” tanyaku pelan yang mungkin tak terdengar olehnya. Padahalkan aku masih pengen dia di sini. Uh, kayaknya aku harus buru-buru ngomong jujur nih sama dia. Tapi kapan ya?
***
Capek mondar-mandir aku duduk dipinggiran tempat tidur. Tak biasanya aku hanya menggenggam PSPku tanpa ada nafsu untuk memainkannya.
“Langsung atau lewat telepon aja ya?” tanyaku pada diri sendiri. Kalau langsung, apa aku bisa? Baru berhadapan dengannya saja aku udah grogi abis, apalagi mau ngomong kayak gitu.
Apa reaksinya ya? Itu yang paling bikin aku sebingung ini.
Kuletakkan PSPku, dan ganti ngambil iPhone yang tergeletak di meja. “Telepon nggak... telpon, enggak...” dua kata yang selau kuulang-ulang dari hampir satu jam yang lalu.
Telepon? Nggak deh, lelaki macam apa aku? Mau nembak lewat telepon!
Sampai akhirnya....
“Oke Ren, kalo lo beneran cinta sama dia, dan pengen mendapatkan cintanya pula, lo harus nembak dia langsung !” kataku ber elo-gue menatap bayangan diriku di cermin. Ya aku harus bisa ngomong langsung ke dia. Demi mendapatkan cintanya, cinta The Curly Girl.
***
“ Vi, aku suka sama kamu” kataku ragu, setelah setengah jam kami hanya diam di bawah pohon akasia di taman belakang sekolah, tempat favorit kami.
Tapi cewek di sampingku ini malah diam saja mendengar perkataanku. Dia tetap menunduk tapi bukan malu atas yang aku katakan melainkan sibuk pada novel di pangkuannya. Kamfreet kamfreeto aku dicuekin. “ VII... !” panggilku gemes.
“Hmm?”
“Kok kamu diem aja, kamu denger kataku tadi, kan?”
Viona mendengus keras, “Kamu suka aku atas dasar apa? Karena rambutku keriting?”
Jawabannya tentu saja membuatku salah tingkah plus bingung.
“Ya nggak laah... aku suka kamu apa adanya, bukan karena apa-apa, pokoknya aku suka.” Viona masih saja diam, masih mengacuhkan omonganku. “ Emangnya kenapa kalau kamu berambut keriting, kan unik dan khas kamu, kalau botak... malah serem dong.” Tambahku mencoba bercanda. Kulirik wajahnya, dan di luar dugaanku, kini dia menatapku bingung.
“Oo... jadi setelah kamu ngatain aku keriting, sekarang kamu malah nyamain aku sama tuyul?”
“Eeeh Nggak ! bukannya gitu!” mampus aku salah ngomong mulu. Tanpa sadar kuacak rambutku dengan parahnya. “ Aduuh Vi susah banget sih ngomong sama kamu. Aku kan cuma mau bilang cinta sama kamu! Aku sayang Vi sama kamu! Dan aku butuh jawaban kamu. Bukannya mau debat sama kamu .” Kataku jujur kini wajahku mulai memanas.
“Apa kamu mau jadi pacarku?” kataku berusaha tetap menatap wajahnya. Meskipun aku sangat ingin merampas buku di pangkuannya untuk menutupi wajahku yang pasti sangat merah sekarang.
Kucoba menanti jawabannya. Was-was. Tapi reaksinya masih sama, datar. Dasar cewek datar !
“Gimana Vi? Aku serius !” desakku
“Aku juga serius, sama pertanyaan yang tadi! Belom kamu jawabkan ?”
“Yang mana?”
“Kamu suka aku atas dasar apa?”
“Yang pasti aku bukannya nggak suka sama kamu karena rambut kamu keriting! Aku suka kamu apa adanya .” jawabku sudah agak bisa mengendalikan rasa maluku.
“Kenapa gak bilang aja, kamu suka aku karena rambutku keriting kayak mie?” tanyanya dengan wajah serius, membuatku semakin bingung. “Dengan gitu kan aku juga bisa bilang ke kamu, kalau aku suka kamu karena kamu gila, jadi kita sama-sama punya kekurangan.”
Hah? Otakku masih sibuk mencerna jawaban Viona,
“Maksud kamu?” tanyaku.
“ Iya aku juga suka sama kamu, tapi aku bingung mikir kelebihan kamu buat jadi alasan aku suka sama kamu Rendi dodoool “
“Ya ampun Vi !”
“Ih apaan sih,” katanya sambil membenarkan posisi duduknya.
“Jadi ?”
“Jadi apa lagi Ren?”
“Kita !”
“Ooowh itu sih terserah kamu aja “
Aku semakin girang mendengarnya. Entah gimana harus kutuliskan perasaanku saat ini.
“Tapi nggak usah pake nyubit kek gini juga kali Ren ! ntar saingan merah sama muka kamu, hahahaaa.”

Dialah Viona, The Curly Girl yang paling gak bisa ditebak. Oh, bukan ! Bukan The Curly Girl lagi, tapi My Curly Girl.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar