Hey, i don't know what to write here...
I'm just sad
that's all
hmmm buat kelanjutan Post sebelumnya kayanya bakalan lama atau bahkan gak dilanjut sama sekali, karena memang belakangan ini mood buat nulis benar-benar hancur dan nyaris gak ada :')
Sorry...
May be I need to disappear for a while
ok, bye.
Welcome and Keep Smiling
Sabtu, 02 Januari 2016
Kamis, 05 Desember 2013
Cerpen - My Curly Girl
Hai-Hai..... nih ada cerpen bikinan gue, buat tugas bahasa di sekolah sih, but kemarin udah di kumpul, idenya dapet dari hasil bongkar-bongkar tabloid story sih wkwkwkwk #plaaak eits tapi ini ga plagiat loh ! #serius
okeeeh enjoy....n komen kalo perlu (kalo bisa sih) wkwkwkwkwk.... newbie alias newborn nih
mohon bantuannya senpai,sensei, hyung, noona, brother, sis, ukhti, ikhwan errr apalagi yaa, heem...guys~ :D
*****
Seharusnya
pujian yang aku ucapkan padanya. Sedangkan keriting? Ya, aku telah mengatainya
keriting, karena rambut keriting yang dimilikinya. Curly Girl. Tapi apa salahnya kalau rambutnya keriting, toh dia
tetap terlihat manis, menurutku, dan... aku menyukainya. Ya, aku menyukainya
meski dia berambut keriting seperti mie. Karena cinta tidak memandang yang
demikian.
“Hei
!” Viona tiba-tiba sudah berada di belakang bangku tempatku berselonjor. Aku
hanya menoleh sebentar, kemudian kembali ke kesibukanku semula. Sedangkan dia
langsung duduk tanpa dipersilakan.
“Nggak
ada kerjaan lain ya selain main game?”
tanyanya retoris
Padahal
diakan sudah tahu kalau aku memang penggila game.
Aku tak menanggapinya.
“Ren
!” katanya kemudian.
“Hm?”
“Semalem
aku mimpiin kamu,” katanya yang secara otomatis membuat jantungku dag dig dug
tak karuan. Aku memang tak merespon ucapannya, tapi menunggu kelanjutan
ceritanya. Apa gerangan yang dimimpikannya tentangku? Jadi geer.
“Aku
mimpi kamu mati Ren !”
“What?”
kata pertama yang spontan keluar dari mulutku “Vi, apa-apaan sih kamu?”
“Yee,
beneran Ren! Aku juga gak tau kenapa. Tapi tenang aja! Soalnya denger-denger
kalau kita mimpi seseorang mati, orang yang kita mimpiin itu justru akan
berumur panjang”. Jelasnya sebelum aku sempat menyela.
“Kata
siapa ?” todongku.
“Kata
mbahku. Mbahku kan asli orang jawa. Katanya sih kalau menurut primbon jawa
begitu”.
“Tapi
aku orang Bali Vi !”
“Emang
apa bedanya?”
Aku hanya terdiam. Sebenarnya aku juga gak tahu sih apa
arti mimpi kayak gitu menurut orang di tempat asalku. Soalnya sudah dari kelas
dua SD aku tinggal dan tumbuh di Jawa. Hhhhh, nggak penting juga. Kuteruskan
lagi kesibukanku yang sempat terbengkalai aku harus menyelesaikan gameku sedikit lagi akan naik level.
“Tuh kan. Masa bodoh lagi,” omelnya kemudian. “Apa
enaknya sih main game?”
“Sebuah kesenangan melakukan sesuatu itu gak bisa
diungkapkan dengan kata-kata, Vi. Tapi hanya bisa dirasakan. Baru kita bisa
tahu rasanya kesenangan itu, right?”
“Alah, gaya lo .”
“Beneran. Sama halnya kalau aku nanya sama kamu, kenapa
kamu gila banget sama novel. Emang kamu bakalan jawab gimana?” tanyaku balik.
“Yaa... kalau novelkan udah jelas banget, itu asyik tau.
Menambah kepekaan kita disamping menambah wawasan dan pengetahuan serta membuat
seakan kita sedang masuk dalam dunia yang baru. Kalau main game?”
“Bikin enjoy,”
jawabku singkat. “Cukup?”
“Bukannya malah ngabisin waktu ya? Coba katakan satu aja
alasan yang masuk akal tentang hobi burukmu ini !”
Mulai lagi deh bawelnya, batinku kesal.
“ Viona keritiiing....” tuh kan keluar lagi omongan
jelekku. Seharusnya kan yang keluar dari mulutku ‘Viona cantik’ atau ‘Viona
sayang’. Tapi masa bodo ah. Lagian dianya nyebelin.
“Alasan paling masuk akal kenapa aku suka main game, karena aku gak perlu susah-susah
memasukkan apa yang aku lakukan itu ke dalam otakku. Kalau nyawa abis, game over, tinggal start a new game lagi deh. Mulai
kehidupan baru. Nah, karena gak merasa terbebani aku jadi enjoy. Gituuu!” jelasku panjang lebar.
Tapi dia hanya diam setelah aku ngomong sepanjang itu.
Kamfreet, nggak menghargai banget. Dasar cewek! Eh, tunggu, apa jangan-jangan
dia diam karena...
“Vi” panggilku pelan.
“Hmm?”
“Kamu gak ketiduran kan?” mulai kulirik wajahnya.
“Enggak” katanya tanpa melihatku. Sudah sibuk dengan novelnya.
“Hmmm... Balas dendam ni ceritanya?” cibirku.
“Gak juga, kayaknya gak penting aja dengerin omongan
kamu, gak berbobot” katanya kemudian berlalu dari depanku.
“Loh, kok pergi sih?” tanyaku pelan yang mungkin tak
terdengar olehnya. Padahalkan aku masih pengen dia di sini. Uh, kayaknya aku
harus buru-buru ngomong jujur nih sama dia. Tapi kapan ya?
***
Capek mondar-mandir aku duduk dipinggiran tempat tidur.
Tak biasanya aku hanya menggenggam PSPku tanpa ada nafsu untuk memainkannya.
“Langsung
atau lewat telepon aja ya?” tanyaku pada diri sendiri. Kalau langsung, apa aku
bisa? Baru berhadapan dengannya saja aku udah grogi abis, apalagi mau ngomong
kayak gitu.
Apa reaksinya ya? Itu yang paling bikin aku sebingung
ini.
Kuletakkan PSPku, dan ganti ngambil iPhone yang
tergeletak di meja. “Telepon nggak... telpon, enggak...” dua kata yang selau
kuulang-ulang dari hampir satu jam yang lalu.
Telepon? Nggak deh, lelaki macam apa aku? Mau nembak
lewat telepon!
Sampai akhirnya....
“Oke Ren, kalo lo beneran cinta sama dia, dan pengen
mendapatkan cintanya pula, lo harus nembak dia langsung !” kataku ber elo-gue
menatap bayangan diriku di cermin. Ya aku harus bisa ngomong langsung ke dia.
Demi mendapatkan cintanya, cinta The
Curly Girl.
***
“ Vi, aku suka sama kamu” kataku ragu, setelah setengah
jam kami hanya diam di bawah pohon akasia di taman belakang sekolah, tempat
favorit kami.
Tapi cewek di sampingku ini malah diam saja mendengar
perkataanku. Dia tetap menunduk tapi bukan malu atas yang aku katakan melainkan
sibuk pada novel di pangkuannya. Kamfreet kamfreeto aku dicuekin. “ VII... !”
panggilku gemes.
“Hmm?”
“Kok kamu diem aja, kamu denger kataku tadi, kan?”
Viona mendengus keras, “Kamu suka aku atas dasar apa?
Karena rambutku keriting?”
Jawabannya tentu saja membuatku salah tingkah plus
bingung.
“Ya nggak laah... aku suka kamu apa adanya, bukan karena
apa-apa, pokoknya aku suka.” Viona masih saja diam, masih mengacuhkan
omonganku. “ Emangnya kenapa kalau kamu berambut keriting, kan unik dan khas
kamu, kalau botak... malah serem dong.” Tambahku mencoba bercanda. Kulirik
wajahnya, dan di luar dugaanku, kini dia menatapku bingung.
“Oo... jadi setelah kamu ngatain aku keriting, sekarang
kamu malah nyamain aku sama tuyul?”
“Eeeh Nggak ! bukannya gitu!” mampus aku salah ngomong
mulu. Tanpa sadar kuacak rambutku dengan parahnya. “ Aduuh Vi susah banget sih
ngomong sama kamu. Aku kan cuma mau bilang cinta sama kamu! Aku sayang Vi sama
kamu! Dan aku butuh jawaban kamu. Bukannya mau debat sama kamu .” Kataku jujur
kini wajahku mulai memanas.
“Apa kamu mau jadi pacarku?” kataku berusaha tetap
menatap wajahnya. Meskipun aku sangat ingin merampas buku di pangkuannya untuk
menutupi wajahku yang pasti sangat merah sekarang.
Kucoba menanti jawabannya. Was-was. Tapi reaksinya masih
sama, datar. Dasar cewek datar !
“Gimana Vi? Aku serius !” desakku
“Aku juga serius, sama pertanyaan yang tadi! Belom kamu
jawabkan ?”
“Yang mana?”
“Kamu suka aku atas dasar apa?”
“Yang pasti aku bukannya nggak suka sama kamu karena
rambut kamu keriting! Aku suka kamu apa adanya .” jawabku sudah agak bisa
mengendalikan rasa maluku.
“Kenapa gak bilang aja, kamu suka aku karena rambutku
keriting kayak mie?” tanyanya dengan wajah serius, membuatku semakin bingung.
“Dengan gitu kan aku juga bisa bilang ke kamu, kalau aku suka kamu karena kamu
gila, jadi kita sama-sama punya kekurangan.”
Hah? Otakku masih sibuk mencerna jawaban Viona,
“Maksud kamu?” tanyaku.
“ Iya aku juga suka sama kamu, tapi aku bingung mikir
kelebihan kamu buat jadi alasan aku suka sama kamu Rendi dodoool “
“Ya ampun Vi !”
“Ih apaan sih,” katanya sambil membenarkan posisi
duduknya.
“Jadi ?”
“Jadi apa lagi Ren?”
“Kita !”
“Ooowh itu sih terserah kamu aja “
Aku
semakin girang mendengarnya. Entah gimana harus kutuliskan perasaanku saat ini.
“Tapi nggak usah pake nyubit kek gini juga kali Ren !
ntar saingan merah sama muka kamu, hahahaaa.”
Dialah Viona, The
Curly Girl yang paling gak bisa ditebak. Oh, bukan ! Bukan The Curly Girl lagi, tapi My Curly Girl.
Langganan:
Komentar (Atom)